QUOTES MILENIAL
Ketika Jemariku Berhenti Menari
Setiap manusia pasti memiliki mimpi, entah suatu mimpi yang sudah tertanam sejak kecil atau mimpi ketika telah menemukan jati diri di masa dewasa nanti. Menurut gua, mimpi bukanlah bunga tidur semata, sekalipun mimpi terkadang diluar logika dan tidak realistis, tapi bagi gua, mimpi itu memiliki makna dan arti dalam setiap langkah kita menjalani hidup. Ada yang mengatakan "Jangan pernah berhenti bermimpi untuk mencapai kesuksesan" dan sebaliknya, "Mimpi jangan terlalu tinggi, kalo jatuh gak kesampaian nanti bakal sakit”. Keduanya benar tapi bisa juga dikatakan salah. karena menurut gua lewat mimpilah kita mempunyai motivasi untuk hidup.
Mimpi
merupakan sebuah pertunjukan. Yaa mimpi bagian dari sebuah seni dalam hidup.
karena menurut gua, mimpi selalu menampilkan sebuah drama pertunjukan yang
sangat fantastis, ia mampu berganti peran kapan pun sesuai waktu yang tak bisa
ditentukan, sangat-sangat fleksibel. Mengenai mimpi, gua juga punya mimpi yang
begitu banyak, dari mulai mimpi yang besar ketika gua masih kecil, hingga mimpi
itu semakin kecil ketika gua dewasa. Keberhasilan kita dalam meraih mimpi bukan
ditentukan melalui grafik naik turunnnya kualitas yang ingin kita capai, tapi
tergantung dari apa yang coba kita lakukan dalam menggapainya.
Menentukan
pilihan dalam mimpi bukanlah suatu kebetulan peran yang kita mainkan. mimpi
lahir melalui jiwa terdalam dari diri kita, ia merupakan suara hati kecil dari
inerbeauty kita yang begitu tulus. karena itu, mimpi tak mengenal batasan. tapi
mimpi mengenal tekad, kemampuan, dan keberanian untuk mencapainya. walau
sebenarnya mimpi bisa aja berubah karena sesuatu yang tidak kita inginkan,
seperti kisah perjalanan mimpi gua saat ini, tapi gua percaya Tuhan telah
memberikan jalan dan garis yang baik dalam mimpi yang akan kita capai.
Mimpi
tidak selamanya tentang kesuksesan. karena sukses hanya sebuah harapan dari
sebuah hasil yang ingin kita raih. tapi dalam mimpi yang terpenting adalah
sebuah proses yang ingin kita gapai berdasarkaan suara hati, baik itu melalui
hobby atau suatu hal yang disuka yang ingin kita raih. dan semua terdorong
begitu saja tanpa adanya paksaan.
Ketika
kecil kita pasti sudah bermimpi, tapi dalam kisah hidup gua. Gua mulai
merasakan mimpi ingin gua raih ketika SD kelas 5, saat itu gua bermimpi untuk
menjadi pemain sepak bola. mungkin hal ini terdengar umum karena sejatinya gua
adalah anak laki-laki. Faktanya, tak semua anak laki-laki suka bola, dan tak
semua anak laki-laki bisa bermain bola dengan baik. kenapa bisa begitu? karena
menjadi pemain professional dalam sepak bola bukan sekedar bermain bola, tapi
banyak hal yang harus dipahami dan dipertimbangkan. Gue emang gak sekolah sepak
bola, tapi banyak temen gua yang sekolah sepak bola dan gua belajar dari
mereka. Dan kebiasaan gua bermain bola bukan sekedar hal yang musiman, sepak
bola sudah menjadi rutinitas yang mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari
gua sejak kecil, tak mengenal waktu. baik pagi, siang, sore, dan malam gua
pernah melakukannya.
Gua
tinggal di Jakarta Selatan tak jauh dari Tugu Pancoran. Jika kalian mengenal
daerah sini, ada sebuah lapangan bola besar milik TNI Angkatan Udara tepat di
depan Tugu Pancoran dengan nama Wisma Aldiron. sampai saat ini tahun 2021
lapangan ini masih ada meski sudah tak terbuka untuk Umum. karena Tim
kebanggaan Ibukota Jakarta, baik itu Persija Jakarta versi ISL dan Persija
Jakarta versi IPL pernah latihan disini.
Meski gua
belajar banyak hal tentang sepakbola dari banyak orang dan lapangan. Tapi,
Lapangan Aldiorn inilah yang menjadi sejarah bagi gua untuk benar-benar paham
betul dan banyak pengalaman tentang sepakbola. Sejak kecil, gua sudah bermain
disini sampai gua menjadi mahasiswa dan bekerja. Kebetulan karena rumah kami
berada tak jauh dari sini meski harus melewati komplek angkatan udara untuk
sampai di sana, alhasil kita tak pernah menyewa, tapi dibutuhkan berjalan kaki
3 sampai 4 kilo untuk sampai dilapangan ini, setiap hari di sore hari kita
lakukan ini tiada henti berjalan kaki untuk bermain bola sejauh 4 kilo, dan
ketika lelah dan gelap malam kita kembali berjalan kaki pulang 4 kilo. tak
jarang kita juga sambil berlari, bukan karena takut gelap dan malam tapi banyak
anjing komplek yang menguber kita ketika berjalan disana hehehe. . . .
Memang,
di lapangan ini bukan hanya anak kampung gua saja yang bermain, tapi dari ujung
sudut pinggir kali kecil lapangan sampai tiang bendera lapangan ini pernah
bertanding (sparing) melawan bagian gua, bukan tidak mungkin tidak ada yang
mengenal wajah-wajah kami, sampai kami harus memilih untuk mencari lawan
sparing yang bisa meningkatkan daya semangat kita dalam bertanding. Ciaelah. .
. bukan mengintimadasi lawan tapi lebih kepada level peningkatan skill dan kebanggaan
untuk meraih kemenangan ketika bertemu lawan yang lebih hebat dari bagian tim
kami.
Hal
diatas memang terlihat suram dan tarkam. tapi berkat itulah kuda-kuda dan
kekuatan kaki gua sama kuatnya dengan teman-teman gua sekolah sepakbola bahkan
bisa dibilang gua jauh lebih kuat menendang bola kulit (bleter) tanpa alas kaki
(sepatu) dibanding temen-temen gua yang lain yang seusia gua saat itu. hal ini
membuka peluang gua untuk mampu bersaing dan terpilih menjadi skuad inti pemain
mewakili sekolah di berbagai ajang tournament.
Gua gak
pernah absen dalam kegiatan sepakbola, di tingkat sekolah umum lebih dikenal
futsal. Hal yang perlu dicatat! gua tak pernah mengajukan diri untuk terpilih
menjadi pemain perwakilan sekolah, gua selalu menyerahkan ke pelatih dalam
memantau murid yang pantas mewakili sekolah. Alhamdulillah sepanjang hal itu
pun gua selalu terpilih.
Di mulai
saat gua SD kelas 5, tiba-tiba nama gua terpilih untuk tournament tingkat SD di
sebuah Balai Rakyat, sebelum itu sekolah memang rutin mengadakan olahraga
cabang sepakbola tak tahu ternyata itu bagian dari proses seleksi yang
dilakukan dan gua terpilih. sama seperti pada umumnya kesempatan banyak orang,
gua gak bisa terlalu banyak ambil peran di debut pertama, karena tak banyak
yang mengakui keterampilan gua saat itu, meski sekolah gua masuk dalam tim
semifinalis gua hanya mecatatkan satu pertandingan saja kala itu. Gua jelas
kecewa karena gua merasa gua gak lebih buruk dari tim pemain inti yang dipilih
menjadi starter. tapi, ada hal yang begitu gua banggakan saat itu, untuk
pertama kalinya gua merasak sebuah ceremony dalam sebuah tournament mewakili
sekolah dengan menyanyikan lagu "Indonesia Raya” meski dalam cakup
tournament kecil, menurut gua itu sudah terasa bermain di tengah stadion, Hahaha.
. . .
Sampai
tiba dikelas 6, Gua tetep masuk dalam skuad tim sekolah gua. Tournament kali
ini jauh lebih tinggi levelnya, kali ini kita bertanding di MTSN 1. Sama
seperti umumnya, pelatih tak banyak menaruh harapan penuh ke gua, meski kita
menjadi runner up di tournament ini, gua tetap masih kurang menit bermain,
hanya 2 kali pertandingan aja gua bermain dalam tournament saat ini. Jadi
menurut gua, tak banyak hal yang perlu dibanggakan dalam ke-ikutsertaan gua
mewakili sekolah saat SD, karena pada masa itu gue merasa benar-benar terasa
tak berguna. karena tak satu goal pun yang berhasil gua cetak dalam 2 kali
tournament.
Masuk ke
tingkat SMP, gua masuk di sekolah Negeri yang bisa dibilang reputasinya tidak
begitu mencolok dalam sepakbola, Benar saja. tak ada daftar ekstrakurikuler
futsal disekolah gua sedangkan setiap siswa baru wajib mengikuti eskul, jika
tidak mau, akan terpaksa masuk dalam eskul Drum Band atau Paduan Suara. Hal
yang sangat tak mungkin untuk gua ambil, akhirnya gua mengambil eskul VollyBall
untuk sekedar formalitas yang sebenarnya gua tetap mencari info tentang sepakbola.
Akhirnya
harapan itu mulai tiba, terdengar kabar dari teman SD gua disekolah lain, Jika
dia akan mengikuti tournament futsal O2SN saat itu, karena sekolah teman gua
masih satu wilayah dengan sekolah gua saat itu dan sama-sama negeri bukan tak
mungkin sekolah gua akan ikut tournament ini, gua terus menggali banyak info
disetiap eskul pada hari sabtu sampai akhirnya gua ketemu Pak Jailani, guru
olahraga kelas 9 sekaligus orang yang memilih tim futsal untuk sekolah. Saat
itu beliau hanya bertanya "SSB (Sekolah Sepak Bola) dimana kamu?"
saat itu gua hanya menjawab tidak SSB pak, pak jailani pun tertawa sambil
menunjukan fotocopy-an dokumen, ini semua yang masuk tim lampirkan rapot SSB
nya, kalo kamu ikut kamu gak bakal main gak usahlah. saat itu gua kecewa,
pantas disekolah ini tak ada eskul futsal karena seleksi yang dilakukan
ternyata seperti ini hanya ingin instan.
Ketika di
SMP jadwal olahraga kita selalu bareng dengan kelas lain, entah itu kakak kelas
atau adik kelas. meski memiliki 2 lapangan jika materi yang diberikan sama kita
akan memakai lapangan bersama dengan kelas lain. Tiba saat itu materi
sepakbola, karena gua siswa baru kelas 7 otomatis berbarengan dengan kakak
kelas. kedua guru olahraga sepakat untuk diadakan tanding sepakbola, menurut gua
bukan perkara umur atau badan besar dalam sepakbola, karena sudah terbiasa
bermain dan melawan orang dewasa ketika di Aldiron jadi melawan kakak kelas
bukanlah hal yang begitu berat. Kelas gua tidak pandai dalam bermain sepakbola
tapi gua punya 4 teman yang menurut gua pantas untuk sefrekuensi dengan jalan
pikiran gua ketika bermain itu sudah cukup. Salah satu dari kakak kelas sempet
berbisik ke temen gua, dia minta kalah bayar goceng buat beli minum pada zaman
itu harga minuman Es masih Rp 500, kita yang merasa hormat dengan kakak kelas
kita mengiyakan. Gua terus berupaya semaksimal mungkin untuk tampil karena gua
tau 02SN sudah dekat dibulan Oktober, meski kalah tapi gua berhasil mencetak 4
goal saat itu. hal ini bahkan membuat guru olahraga Alm. Pak sutrisno berdiri
sambil bertepuk tangan dan memarahi muridnya kalah dengan anak kecil. hehehe,
hal ini yang membuka peluang gua untuk bisa tembus dalam skuad tim sekolah SMP
gua.
Tiba hari
senin, hari dimana gua tak menyangka hal ini terjadi. Bel istirahat pertama
berbunyi, tiba-tiba murid berkulit hitam dengan badan keker dan tegap seperti
Adebayor dari kelas 74 memanggil gua didepan pintu kelas 75, Dia adalah
Muhammad Tunjung bocah SSB GOR Ragunan, SSB yang sama dengan pemain hebat yang
saat itu ada disekolah gua Abdul Rozak. saat itu dia memberi kabar jika gua
dipanggil pak jailani di depan teras ruang guru. Saat itu gua masih ingat betul
pak jay menanyakan gua biasa main di posisi mana, saat itu gua bilang pemain
depan. Kata dia tidak bisa, kalo kamu mau ikut tim masuk sebagai kiper itupun
cadangan dari kiper utama M. Fahli, saat itu gua sempet gondok (kesal) cuman
gua turutin apa maunya dia, karena bagi gua bermain futsal menjadi seorang
kiper bisa menjadi libero (ikut menyerang).
H-7 bulan
tournament O2SN tahun 2009, akhirnya kita berkumpul untuk latihan kekompakan
tim pasca pulang sekolah setiap hari bahkan sabtu pun datang, tim dengan
berjumlah 10 pemain hanya melakukan pemanasan ringan, GamePlay dan sedikit
arahan dari pak jay setelah itu, tim ini begitu instan, dibentuk dadakan
seperti ada titipan. selama latihan full gue benar-benar menjadi seorang kiper
di tim B alias tim pemain cadangan, tak buruk juga karena gue sering menjadi
pemain depan bisa membaca dan menebak tembakan mereka semua tak begitu sulit
dengan catatan penting menjadi kiper tak perlu takut bola apalagi tendangan
bola keras, dan gua rasa tim ini jauh lebih buruk dari tim SD gue, mungkin bisa
kalah telak sih kalo kata gua mah. Wkwkwk. . .
Tiba hari
perlombaan 02SN tiba, banyak cabang yang dilombakan tapi gua fokus ke sepakbola
untuk sekolah gua bisa tembus tingkat nasional, saat itu sekolah kami bermain
disekolah SMPN 124 sebagai tuan rumah. saat ingin memulai ceremony, gua sama
sekali tidak merasakan adanya team work dalam tim ini, pak jay pun sibuk
berbincang dengan guru sekolah lain dan juga panitia, Kevin merupakan kakak
kelas tertua di tim kami juga sama sekali tak ada jiwa leadership, hal ini
berbeda sekali di tim futsal SD gua dulu, sampai akhirnya gua tau mungkin gua
gak akan dapat menit bermain karena hanya kiper cadangan.
Saat itu
sekolah gua bertemu SMPN 141 Jakarta, sekolah kami unggul cepat melalui Goal
abdul rozak, tak lama kita tekena come back cepat di awal-awal babak kedua
dengan skor 2-1, saat itu semua pemain sudah letih hanya ada 2 pemain yang
belum tampil, gua sebagai kiper cadangan dan raihan kelas 76 sebagai Bek. saat
itu M. Tunjung tiba-tiba jatuh ditengah lapangan, dia minta diganti sisa waktu
mungkin hanya 2 menit saja, saat itu raihan sudah malas untuk bermain sampai
akhirnya pak jay menyuruh gua masuk dengan memakai kaos raihan. Gak butuh lama,
gua hanya butuh 2 sentuhan untuk menyamakan kedudukan. berawal dari serangan
balik, untuk pertama kalinya gua berani membentak Iqbal, untuk meminta operan.
peluang itu benar-benar gua maksimalkan ketika hanya berhadapan dengan kiper.
Skor 2-2 setelah goal itu pertandingan Habis, dan terpaksa dilanjutkan dibabak
adu pinalty langsung tanpa adanya ekstra time. Saat itu gua sudah tau, gua
bukan pemain inti, Jadi, jangan berharap untuk mengambil tembakan. dan benar
saja 2 penendang sekolah kami gagal mengeksekusi dengan sempurna sedangkan
kiper tim kami hanya mampu menahan 1 tembakan tim lawan dari 3x percobaan satu
langkah. Meski tim gua kalah, gua bisa bangga karena bisa mencetak goal yang
indah, bahkan pak jay pun tersenyum dan memberi jempol untuk goal gua saat itu,
Dan mulai saat itu gua selalu masuk dalam tim inti futsal SMP gua saat itu.
Pasca
kekalahan drama pinalty saat itu, gua juga heran. Tunjung yang tiba-tiba minta
diganti karena kelalahan justru mengambil tembakan pinalty dan benar saja tak
masuk hahaha. . . sepanjang perjalanan pulang dari tournament tidak ada sedikit
pun bentuk penyesalan dari tim ini mereka sibuk membahas apa yang sudah mereka
berikan dilapangan tanpa mengoreksi kesalahan dari tim ini. yakni Egois yang
tinggi.
Meski gua
tau banyak Akamsi (Anak Kampung Situ) disekolah gua, tak membuat gua minder
bergaul. gua tetep melakukan pendekatan dengan mereka dan lama kelamaan gua pun
akrab. Ada satu pemain yang gua kagumin sejak awal dan hebat di tim ini. Yaa
Dia adalah Abdul Rozak aka Ojak, dia pemain tanpa emosi, keep calm, dan juga
anak SSB dari GOR Ragunan. Ia sempat bertanya gua dari sekolah mana, setelah
gua bilang dari MI Al-Khairiyah dia terkejut, karena dia salah satu bagian dari
tim yang dikalahkan sekolah gua saat semi final di tournament MTSN 1 dulu, saat
itu dia banyak cerita dia sedikit kesal dengan pemain tim SD gua dulu yakni si
Reza yang menurut dia terlalu lebay terjatuh ketika bermain. Gua cuman bilang, “reza
tadi juga ada di SMPN 43 pas O2SN memang tidak bertemu dengan tim kita karena
kita sudah kalah di laga kedua tournament tersebut dan langsung sistem gugur”.
Mulai saat itulah gua mulai akrab dengan salah satu pemain di tim futsal ini
yang bisa dibilang gua mulai nemu kawan yang sefrekuensi.
Setiap
tahun biasanya sekolah minimal hanya mengikuti satu tournament saja dan itu
yang dilakukan sekolah gua, kelas 7 hanya terkesan begitu saja tapi lebih baik
dari peran gua ketika SD. Tiba kenaikan kelas 8, ada pengocokan kelas yang pada
akhirnya gua sekelas dengan Ojak. gua mulai akrab bahkan gua sering main ke
rumah dia begitu juga sebaliknya dengan main ke rumah gua. banyak yang kita
lakukan bersama, mulai bikin jaket, almamater, jalan-jalan, nongkrong, tak
terkecuali menjalin chemistry dalam bermain bola. tercatat saat kelas 8 itu,
kelas gua menjadi juara classmeeting futsal disekolah yang notabane nya
pemainnya biasa-biasa aja, mungkin karena ada Ojak sebagai penyeimbang gua saat
itu.
Di kelas
8, mulai ada perombakan tim di skuad tim futsal. karena anak kelas 9 tidak
boleh ikut lomba yang membahayakan jiwa dan tubuh karena fokus pada kesibukan
Ujian. akhirnya sekolah kami tetap mengandalkan anak kelas 7 dan kelas 8. Saat itu tahun 2010, tournamet dengan hadiah
besar puluhan Juta rupiah yang disponsori minuman terkenal yakni "MILO"
dengan pembukaan ceremony yang mewah dari girl band dan aktris cinta laura
sebagai bintang tamu acara, diadakan di lapangan mahal CITOS "Cilandak
Town Square" dengan sekiranya ada 64 Sekolah yang mengikuti tournament ini
dari berbagai wilayah.
Saat itu
gua tetap terpilih, hanya ada 3 nama dari anak kelas 8. Gua, Ojak, dan satu
rekan lagi Alfi dari kelas 82. Alfi bukan orang yang asing bagi gua, karena
rumah gua yang berdekatan dengan dia, dia juga temen gua bermain di lapangan
Aldiron dan dia sekolah SSB Garuda Sakti di lapangan Belalang, Kalibata Jakarta
Selatan. waktu kelas 7 alfi tak masuk dalam tim skuad futsal O2SN karena lebih
memilih masuk dalam tim skuad Basket sekolah kami. Di tahun ini, ia lebih
memilih masuk tim futsal mungkin karena hadiahnya juga wkwk dan dorongan dari
cerita gua dan ojak. sampai akhirnya kita bertemu dengan salah satu sekolah
dari daerah Lebak Bulus. Gua lupa nama sekolah dia apa, tapi yang jelas mereka
sempat menertawakan tim kami karena sempat wasit memberhentikan pertandingan di
tengah menit bermain karena salah satu pemain kami memakai deker (Pelindung
tulang kering kaki) menggunakan kardus. Hal ini memang memalukan, karena
seperti biasa sekolah kami tak pernah ada latihan rutin karena tak ada
eskulnya, sampai meski kami mendominasi pertandingan harus kalah 3-0 melalui
goal-goal kesalahan spele dari pemain kami yang masih grogi di tonton banyak
orang di lapangan bagus dan tribun penuh.
Pulang
dari situ, mulai banyak sih cemohoan dari berbagai guru dan juga teman
disekolah, yang lebih mondorong eskul atau kegiatan lain untuk lebih
ditingkatkan lagi yang lebih jelas prestasinya. ya gua mengerti, dan baru tau
banyak info setelah tournament ini, sebenarnya sekolah smp gua itu dulu ada
eskul futsal, terakhir kali juara kalo tidak salah tahun 2002/2004, waktu yang
cukup lama. dan seketika eskul itu bubar gitu aja karena emang tak melahirkan
banyak prestasi juga buat sekolah. tapi kenapa masih ikut lomba? ya karena
sekolah kita masuk dalam sekolah negeri yang juga otomatis tournament seperti
O2SN tak bisa ditolak meskipun bisa tidak mengirimkan tim untuk bertanding,
terkesan lebih lemah dan tak mendukung upaya penyaluran dan pengembangan bakat
siswa. Jadi, sekolah gua seperti mengirim tim pelengkap aja dalam setiap ajang
tournament, karena mekanismenya juga gak jelas, gak ada eskulnya, guru olahraga
yang menyambi sebagai pembina eskul, latihan pasti H-7 sebelum tournament. Hal
ini sampai kapan pun juga akan terus begini, sebenarnya permainan kita gak
begitu buruk hanya saja kita selalu apes bertemu tim yang lebih hebat di awal dan
juga perkara mental.
Dari situ
gua mulai sadar, ternyata ada hal yang kurang dari tim ini yaitu perihal jam
terbang. mulai saat itu gua mencoba gak berharap sama tournament yang ada lagi,
gua sempet gak ngikut 2 ajang tournament yang pertama di ragunan, yang kedua
ajang O2SN kembali seperti biasa semua materi pemain di ambil dari kelas 7 yang
masih muda. tapi disisi lain gua tetep main futsal sama temen-temen seangkatan
gua dan bahkan mulai mencari jam terbang dengan sparing diberbagai tempat lain
seperti di taman menteng, dan kita sepakat semua tidak ada yang naik kendaraan
pribadi. bahkan kita mencari banyak chanel sparingan seperti anak smpn 43, smpn
247, dan bagian-bagian lain yang kita temui di lapangan futsal. Ini memang
tidak membentuk taktik kita karena kita masih berjalan seperti menjalankan
hobby tanpa adanya pelatih, tapi dengan cara ini, kekompakan tim jauh lebih
solid dari sebelumnya.
Masuk ke
kelas 9, kelas kembali ke awal semula seperti kelas 7. gua berpisah dengan
Ojak. tapi tetap di jam istirahat atau pulang kita kongkow bareng di halaman
belakang sekolah. sampai akhirnya sekolah kita mendapat undangan untuk
tournament di SMAN 6 Jakarta atau biasa dikenal dengan nama Projost. di acara
ulang tahun projost ini mereka mengadakan lomba futsal 2 tingkatan, yakni
tingkat SMA/SMK, dan tingkat SMP untuk mendorong siswa baru mau masuk ke
sekolahnya. Fyi ya meskipun negeri ditahun gua smp saat itu pemerintah belom
meresmikan wajib belajar 12 tahun. Jadi SMA/SMK Negeri pun masih harus tetap
bayaran bahkan lebih mahal dari swasta.
Tapi saat
itu, sekolah gua melalui pak jay tidak mau mengeluarkan surat izin pengantar
sekolah. meski data tim kami sudah komplit. karena tim yang kami bawa ke
tournament ini full dengan siswa anak kelas 9 yang akan bersiap untuk kesibukan
Ujian, hanya ada 1 pemain yakni si agus yang masih kelas 7. Agus ini bukan
sekedar kambing hitam atau formalitas, tapi bakat agus sudah kami pantau dari
classmeeting pertama dia saat itu, Fyi kembali classmeeting futsal saat itu
tetap kelas gua yakni 95 yang menjadi juara kembali. Jujur, gua bukan captain tim
di skuad futsal sekolah gua, tapi gua memiliki pengaruh besar bagi tim dan gua
nyaman menjadi sosok seperti ini dalam berteman dan bergaul.
Gua tak
begitu ingat, yang jelas saat itu kepala sekolah gua Pak Bona Warsono mau
mengizinkan dengan catatan tetap menjaga kesehatan dan dilarang berbuat
keributan. Maklum zaman smp gua saat itu tingkat kriminalitas seperti tawuran,
pemalakan, masih sedang marak-maraknya terjadi di kalangan remaja. Dan akhirnya
semua sudah beres. Dan kami terkendala satu persyaratan yakni wajib membawa
satu pembina/pelatih. kami bingung, Pak jay tak mau menemani kami dan pada
akhirnya kami terpaksa meminta salah satu pengurus kantin sekolah, panggil saja
namanya "Jawa" karena orangnya memang berasal dari Jawa, untuk
menjadi pembina kami untuk mengikuti lomba ini. akhirnya dia mau dan tim kami
siap untuk menjuarai tournament terakhir kami di sekolah ini.
Kenapa
kami yakin untuk juara? karena sistem tournament ini memiliki peluang yang
besar. tidak sistem gugur hanya diikuti oleh 8 sekolah dan melalui sistem point
group. kami yakin bisa ada peluang juara karena kami terpisah group dengan
sekolah tim futsal terbaik seperti SMPN 247 dan SMPN 43 Jakarta. kami di
hadapkan oleh SMPN 48 Kebayoran Lama, SMPN 31 Ragunan, dan SMPN 29 Blok M.
melihat skuad group ini, kami yakin kami bisa lolos ke fase semifinal dengan
mudah.
Jujur tim
ini berbeda, tim ini sudah seperti keluarga. meski menargetkan juara. tapi, tim
ini tidak gugup seperti tak ada beban. kami yakin secara mental kami sudah siap
betul, dan kami sudah memetakan kekuatan lawan. bahkan kita semua sudah komite
untuk percaya satu sama lain dan tidak memaksakan jika sudah lelah.
Laga awal
tentu dibuka oleh tuan rumah SMKN 6 melawan SMKN 25 Pasar Minggu, saya masih
ingat betul karena di smkn 25 ada teman rumah saya yang ikut tournament ini
juga. Di lanjutkan dengan laga pembuka tingkat SMP, antara sekolah kami SMPN
104 melawan SMPN 48, kami mengira mereka sudah gentar dengan postur tubuh
pemain kami yang jauh lebih besar dari mereka. tapi kami salah permainan mereka
begitu apik hingga kami dibantai telak dengan skor 4-0. semua pemain lesuh kami
kehilangan point dengan selisih goal cukup jauh untuk perebutan lolos dari
Group. mengingat tim lain di group kami dimenangkan oleh SMPN 29 melawan SMPN
31 dengan skor 2-1. kami berada di juru kunci pada hari pertama tournament.
Siapa
yang tak kecewa? semua kecewa, bahkan "Jawa" sudah tak mau mengantar
kami di tournament hari kedua besoknya. di tengah rasa lelah kami, kami
dipusingkan dengan mencari pembina kembali. kita semua sepakat untuk istirahat
di musolah SMAN 6 ini yang penuh dengan AC sambil mengademkan rasa lelah.
Sampai akhirnya Ojak menemukan Ide untuk meminta saudaranya menjadi pembina
kami, sosok yang bisa dibilang berbahaya karena bukan bagian dari kepengurusan
sekolah yakni dari luar. tapi ini merupakan jalan satu-satunya yang bisa kami
andalkan untuk bisa bertanding. kami sudah mengevaluasi kesalahan kami, kami
terlalu banyak melakukan shooting jarak jauh yang membuat tenaga kami cepat
terkuras saat kalah telak dari smpn 48, karena sejatinya kami memang sudah
sepakat untuk melakukan tembakan langsung saat ada ruang dan kesempatan. kita
juga sudah mentargetkan minimal kita menang 3-0 dipertandingan berikutnya untuk
mengamankan selisih head to head di perhitungan point akhir. Defisit goal kami
di pertandingan akan lebih ringan kita bayar di laga kedua daripada menjadi
beban di laga akhir.
Lawan
kami di laga kedua adalah smpn 29, secara tak langsung smp ini seperti tuan
rumah karena smp ini berada tak jauh dari sman 6 jakarta. meski begitu, tekad
kami sudah bulat kami harus menyerang terus menerus mati-matian untuk mencetak
goal sebanyak mungkin. permainan tensi tinggi dengan operan cepat mampu membuat
mereka terkejut bahkan semua penonton dan tim lain yang menyaksikan permainan
kami jauh berubah dalam waktu sehari. tak disangka skor akhir kami menang telak
dengan skor 10-2. bahkan agus anak kelas 7 mencetak 4 goal kala itu. suatu
jalan yang membuat kami semakin optimis bahkan membuat tim lain gagal
meremehkan kami, karena dewi fortuna benar-benar memihak ke kami, karena smpn
31 berhasil menahan imbang smpn 48 yang membuat kami merangsak langsung ke
posisi 2 klasemen group karena unggul agregat goal dari smpn 29 dan berbeda 1
angka dari smpn 48 di posisi puncak. Cihuuuyyy . . . .
Dengan
begitu, sekolah kami berada diatas awan. karena kami hanya membutuhkan 1 point
untuk bisa melaju ke fase semifinal dan itu bukanlah sesuatu yang sulit karena
lawan kami di laga penutup group adalah smpn 31, sang juru kunci yang tak
memiliki harapan lolos. Di sisi lain, smpn 29 akan bermain habis-habisan
melawan smpn 48 yang juga tak mau kalah, karena jika kalah mereka bisa
tersingkir dari kami. benar-benar sesuatu yang sangat seru untuk dirasakan bagi
kami, kami seperti baru saja meluncurkan meriam bom kepada mereka semua di hari
kedua.
Tiba di
hari ketiga, kami sudah melakukan streaching di lorong sman 6, hal ini
bertujuan untuk membuat mental lawan goyang dengan daya semangat kami yang
membara. memang ada hal yang tak menentu karena kami selalu main di awal, untuk
itu kami semua sepakat untuk tidak main-main. kami tetap fokus pada permainan
yang safety dan bahkan kami berhasil unggul di babak pertama 1-0 dari smpn 31.
Hal ini membuat kami sepakat untuk terus merotasi pemain untuk memecah
konsentrasi lawan dan menyegarkan fisik tim kami ditengah lapangan. Tapi
malapetaka terjadi di babak kedua, smpn 31 yang sudah kalah justru melepas
beban sepenuhnya, mereka bahkan berhasil mengembalikan keadaan sampai 3-1. kita
semua panik bahkan terkesan gegabah karena banyak pemain terkena kartu kuning
saat itu, ditambah sorakan dari tim smpn 29 yang merasa senang. Sampai akhirnya
gua mencoba melakukan hal sederhana, gua sepakat dan membisikan agus untuk
terus mengoper balik ke gue untuk melakukan satu dua sentuhan dengan agus untuk
menjadikan agus bahan pantulan dan melakukan shoot langsung ke gawang.
benar-benar hal tak terduga, dua kali percobaan gua berhasil dan skor akhir
menjadi 3-3. hasil ini membuat kita tetap kokoh di posisi kedua group, tak akan
berpengaruh hasil pertandingan dari smpn 29 dan smpn 48 berapapun skor
akhirnya.
Keberhasilan
tim kami lolos ke fase semifinal cepat terdengar sampai ke pihak sekolah.
Sampai akhirnya tiba-tiba “Jawa” menghampiri kami di gerbang depan sekolah
bahwa ia siap untuk membina kami kembali di tournament sana, sebenarnya peran
“Jawa” juga begitu vital karena dia salah satu pengurus kantin sekolah hal itu
membuat kita canggung dalam meminta pendapat dan bergurau canda. Saat itu,
beredar pula dengan cepat melalui SMS ke banyak anak-anak disekolah, dan banyak
yang ingin menonton secara langsung ke sman 6 jakarta. Kita menyambut bangga
dan semangat dukungan dari banyak teman dan sekolah.
Di partai
semifinal kami sudah tau siapa yang akan kami lawan, ya di group sebelah hanya
ada 2 tim terkuat yakni SMPN 247 dan SMPN 43 Jakarta, karena kita menjadi
runner up maka lawan kita di group sebelah adalah sang juara group sebelah
yakni SMPN 43. Di sinilah, akhirnya untuk pertama kalinya gue bertanding secara
resmi melawan rekan tim SD gue dulu yaitu reza, dan reza bukan sosok yang asing
bagi Ojak. Semua bertemu pada waktunya.
Tim kami
semakin pede karena kami sudah berani melakukan passing pemanasan di lapangan
sebelum mulai, tidak di lorong atau depan musolah lagi. Hehe sang semifinalis
gitu loh wkwkwk, Laga saat itu sebenarnya tidak kaget bagi kami, karena kami
sering melakukan sparing sebelumnya meskipun sekolah kami lebih banyak kalah
dibandingkan mengalahkan sekolah mereka, tapi pada intinya, modal besar yang
kami bawa ke tournament ini adalah kita sudah memetakan kekuatan lawan, kita
tau betul mematikan pergerakan pemain lawan yang harus dijaga ketat. SMPN 43
sebenarnya memiliki materi pemain yang tak jauh dari kami, hanya saja type
permainan mereka jauh berbeda, mereka lebih mengandalkan 2 pemain di sisi kanan
dan kiri untuk menusuk ke dalam, lebih tepatnya mereka selalu melakukan shoot
keras langsung dengan mengincar tiang jauh atas. Hal itu masih terus mereka
lakukan sampai pertandingan kala itu, beruntung dewi fortuna selalu memihak
kepada kami, tendangan mereka selalu meleset jauh bahkan sempat mistar sebanyak
5 kali.
Saat itu
gue hanya mencoba mengikuti instruksi tunjung, ia memilih tim kami untuk terus
menunggu dan man to man marking. Khusus reza ketika memiliki ruang dan sisi
sayap langsung di marking 2 pemain, itu yang membuat tendangan ia selalu
meleset. Jujur gue benci gaya permainan saat itu, kita sepakat tak melewati
garis tengah ketika bertahan dan hanya melakukan tendangan balasan secara
langsung. Sampai-sampai smpn 43 bermain power play (libero) dan benar saja
meski babak pertama kami berhasil menahan imbang 0-0, di awal babak kedua kita
kecolongan cepat dengan kebobolan 1-0. Gua bingung saat itu, ojak dan tunjung
masih memiliki pemikiran yang sama, menunggu dan menahan setengah lapangan
meskipun dalam kondisi kalah. Tapi, mereka mengubah posisi. Tunjung
mengharapkan gua didepan dan memaksa alvi berkreasi di lini tengah lebih aktif.
Artinya (lebih maruk) untuk menarik lawan ketika dapat kesempatan memegang
bola. Tak banyak peluang, justru mereka
tetap melakukan long shoot dari pertahanan.
Waktu
semakin tergerus, bahkan smpn 43 masih mendominasi pertandingan. Bahkan
sesekali kiper mereka masih ikut bermain maju ke depan. Sampai akhirnya
keajaiban datang melalui tunjung, ia membaca betul posisi kiper ia melakukan
chip jauh ke tiang gawang lawan, dimana salah satu bek mereka tak membaca
posisi kiper yang membaca bola. Berniat untuk membuang bola justru bola itu
masuk ke gawang sendiri, Taaaaaraaaaaaa! Terjadi own goal (bunuh diri) skor
menjadi 1-1. Pendukung kami bersorak, dan penonton yang tadi menjudge permainan
kami kini berteriak Sacova. . . Sacova. . . Sacova. . . kondisi mental berada
diposisi kami saat ini.
Awalnya
gua berpikir strategy ini dilakukan hanya untuk mengharapkan adu penalty, tapi
ternyata gua salah. Dengan skor 1-1 kini tunjung berani melakukan operan pendek
dari kaki ke kaki bersama ojak di belakang, gua yang hanya menunggu dan mencari
ruang di pertahanan lawan sampai bingung maksudnya ini apa, sampai akhirnya gua
menemukan kode untuk membelakangi lawan dan berlari ke sisi ruang yang kosong,
bola segitiga (terobosan) diberikan alfi ke ruang sisi kosong yang hampir out
dari garis, dengan skuad tenaga gua berlari dan melakukan shoot keras sampai
badan gua terpental, bola itu membentur tiang samping dan muntah (rebown) di
kaki alfi, hanya butuh sontekan kecil untuk memasukan bola ke jarring lawan.
Sorakan penuh gembira hadir di bench kami, kami mampu mengembalikan keadaan
menjadi 2-1.
Lalu, tim
kami langsung menarik formasi. Sama seperti tadi hanya saja gua ditarik keluar
untuk digantikan Yazid pemain Bek Murni. Alfi yang pandai mengocek alias
bermain maruk kini di letakan di depan. Mungkin
bagi penonton dan pendukung lawan permainan kami monoton tapi bagi tim kami hal
terpenting saat ini adalah membuat mereka frustasi. Hal tak terduga pun
terjadi, Ojak melakukan tindakan kurang terpuji kita memang sudah sepakat untuk
mematikan pergerakan reza, hal pelanggaran pun sebenarnya hal yang wajar
mungkin reza yang tak terima dilanggar terluap emosinya sampai harus memukul
Ojak, saat itupun situasi ramai karena ojak membalas untuk memukul. Hal
demikian bertambah kisruh karena wanita dan panitia ikut masuk ke lapangan
ditambah himbauan melalui speaker yang terus menekan tak boleh ada kerusuhan.
Penonton
yang didominasi oleh kelompok supporter dari sekolah kami juga ikut
bersorak-sorak, sampai terjadi dorong-dorongan. hal yang gua inget saat itu gua
bimbang, di satu sisi reza adalah teman gua dari SD sekelas selama 6 tahun.
meski hanya 2 kali dalam tim futsal tapi gua sama reza sudah satu kelompok
dalam group pramuka yakni dari pin
"orange" sampai regu "Macan". Namun, di sisi lain saat ini
gua berada di tim smp dan ojak pun sahabat gua yang begitu deket. sampai
akhirnya reza terus menunjuk-nunjuk ke arah gua yg mencoba melerainya sambil
berkata "Bilangin tuh bay temen lo,
bilangin main jangan kasar. gua ingetin lo ya!" saat itu untuk pertama
kalinya gua melihat reza begitu marah dicampur rasa sedih, karena wasit
memutuskan untuk mengeluarkan red card (kartu merah) yang artinya kedua pemain
baik reza dan ojak harus keluar dari lapangan. Hal ini semakin genting bagi
smpn 43 karena hanya menyisakan satu jangkar pemain andalan mereka karena reza
sudah tak ada dilapangan. hal ini cukup mudah bagi kami karena kami masih punya
pemain kuat untuk menanganinya seperti tunjung dan alfi. sampai akhirnya wasit.
Malapetaka terjadi karena pemain kami sering melakukan pelanggaran tiba wasit
menunjuk titik putih untuk smpn 43, meski pelanggaran dilakukan tidak di kotak
pinalty tapi, pemain kami sudah melakukan pelanggaran sebanyak 10 kali. Dan
itulah peraturan yang berlaku di futsal langsung menghukumnya melalui tendangan
titik putih. kita hanya pasrah, jika bola ini masuk dan dilanjutkan ke adu
pinalty bukan tak mungkin mental kita akan jatuh. hanya berdo'a yang bisa kita
harapkan, bahkan pemain kami tidak mengerti yang dilakukan oleh pemain mereka,
tendangan pinalty dilakukan begitu keras dan melenceng jauh sorak suporter pun
tak berhenti bersambungan Huuuu. . .
Huuuu. . . Huuu. . .
saat itu
juga wasit meniupkan pertandingan berakhir. priittt. . . priitt. . .
priiiitttt. . . semua pemain tim kami berpelukan akhirnya kami menghadapkan ke
final, tapi ada yang begitu kami sayangkan setelah ini, kekecewaan yang begitu
besar dari smpn 43 tak selesai sampai disitu, pemain kami yang berusaha
menyalami mereka tapi mereka menolak dan hanya berjalan keluar lapangan. bahkan
pembina mereka masih sibuk protes di meja panitia. Mungkin bagi sebagian orang
hal ini tampak hina, tapi itulah yang terjadi dalam sepakbola. banyak drama,
banyak keajaiban, dan banyak kemungkinan yang terjadi di dalam lapangan atau
suatu pertandingan.
Hari itu
kami tampak bahagia, karena sejatinya tim kami berhasil masuk final. Sejarah
akan kami ulangi untuk dapat memberikan trofi atau piala dari ajang futsal bagi
sekolah kami setelah sekian lama. kami pun untuk pertama kalinya tak pulang,
karena kami masih menunggu menyaksikan calon lawan kami di partai final antara
Smpn 247 vs Smpn 48. kami mungkin berharap ingin bertemu smpn 48 sebagai ajang
balas dendam atas pembataian di group. tapi kami lebih ingin bertemu smpn 247
karena kami sudah memetakan kekuatan lawan, karena kami berhasil mengalahkan
smpn 43 kami yakin bisa mengimbangi smpn 247. Dan hasilnya pun benar, smpn 247
keluar sebagai lawan kami di final setelah berhasil mengalahkan smpn 48 dengan
skor 3-1.
Selama
perjalanan pulang, kami masih berkumpul di sekolah kami. selain menyampaikan
kabar gembira bahwa kami telah masuk final, kami juga berdiskusi di teras
halaman sekolah tentang apa yang harus kita persiapkan di partai final.
kebetulan laga final dijeda libur 1 hari saat tournament saat itu , maka kita punya
waktu untuk mempersiapkan semuanya. semua elemen sekolah baik itu teman, guru,
dan kepala sekolah menyambut gembira pencapaian kami sejauh ini tak terkecuali
pak jay yang tak menyangka kami sampai final. Akhirnya kami mendapatkan
dukungan besar, bahwa di partai final nanti kepala sekolah kami Bapak Bona
Warsono, akan hadir untuk langsung menyaksikan pertandingan kami. hal yang
sangat luar biasa bagi kami. Dan kami sepakat untuk tidak ada yang kelelahan
bahkan kita sepakat tidak ada yang begadang karena kebetulan malam final
tersebut adalah malam final liga champion eropa juga, Jika ada yg kelelahan
akan bersedia tidak dimainkan. dan kami juga sepakat selama jeda 1 hari kami
tidak mengadakan latihan, kami fokus pada kesehatan fisik yang cukup istirahat dan
cukup berdiskusi di group futsal facebook kami sambil bercanda gurau.
Tiba Hari
final dilaksanakan, awan yang begitu cerah seakan siap menyambut kemenangan
kami. Smpn 247 bukanlah hal yang asing bagi kami, karena mereka seperti saudara
kami hanya saja prestasi kami yang berbeda hehehe. . . kita bahkan kenal betul
dengan pembina mereka dan kami dengan hormat juga salaman padanya yakni Bapak
Sani Fahmi. hal yang sangat jarang terlihat saat itu kami mencoba melakukan
pemanasan bersama dengan tim lawan dengan melakukan obrolan sambil melakukan
passing. hal itu begitu relaks, dan sangat patut dicontoh untuk sebuah
sepakbola, karena sepakbola harus bisa menjadi pemersatu dan hiburan. Dengan
hal seperti itu, kami seperti tak ada beban, sampai kami lupa bahwa ini partai
final. Tentu, kami tak akan lupa dengan tujuan kami yakni juara karena runner
up bukanlah juara sesungguhnya bagi kami. Di sudut lapangan belakang meja
panitia terlihat kepala sekolah kami sedang berbincang dengan kepala sekolah
sman 6 jakarta. hal yang membuat kami tak akan membuatnya malu.
Di partai
final, tentu akan sulit menentukan starter terbaik. akan tetapi, saat itu
tunjung lebih memilih mencadangkan ojak dan alfi. dan mempercayakan gua dan
agus di lini depan. karena kita sepakat kita bermain menyerang di babak pertama
untuk mencuri angka terlebih dahulu, sisanya kami bertahan untuk mempertahankan
keunggulan. Hal ini berjalan lancar, bahkan pertandingan belum genap 2 menit
berjalan, tim kami berhasil unggul 1-0 berkat goal nomor punggung 15, yakni
Ahmad Bayhaqi aka Gua sendiri hahaha. . . setelah kick off agus langsung
melakukan akselerasi menusuk melalui sisi kiri, gua yang mencoba membuka ruang
diujung tiang gawang kosong berhasil menerima operan agus yang begitu jeli.
sampai akhirnya berhadapan dengan kiper dan kiper pun sudah mati langkah. satu
sentuhan cukup melesatkan bola ke gawang dan sorak-sorak pun berhamburan ke
lapangan bahkan suporter kami meloncat-loncat dari tribun sampai ke pinggir
lapangan. mungkin terlihat norak, tapi percaya tak dipercaya goal semata wayang
gua adalah goal satu-satunya yang terjadi di partai final tersebut.
![]() |
Rencana
kami begitu mulus, sampai akhirnya ceremony penutupan tournament ini ditutup,
dengan kami sebagai juara di tournament tingkat SMP. sayang bapak kepsek kami
telah meninggalkan lokasi terlebih dahulu karena ada kegiatan lain sebelum
acara selesai. dan kami pun senang kepsek membuat penyambutan dan penyerahan
piala kepada sekolah kami saat upacara pada hari senin.
Meski
penyerahan piala hanya diwakilkan captain tim kami yakni M. Tunjung, tapi ada
yang membuat kita bangga. Piala itu masih terpajang di lemari sekolah hingga
kini, dan menjadi sejarah bagi tim kami untuk menjadikan sekolah kami juara
setelah tahun 2002/2004. Bahkan hingga tahun 2021 kini, sekolah kami belum lagi
mampu juara dalam ajang sepakbola futsal. Tahun 2011/2012 menjadi tahun terakhir
kembali sekolah kami menjuarai tournament futsal, saat membanggakan nama kami
terkenang dalam adik-adik kelas. bahkan hal yang membuat gua merasa senang
adalah setelah kami Lulus, smpn kami membuat eskul futsal diadakan kembali
disekolah dengan Agus yang menjadi pemimpin penerus bagi tim futsal sekolah
kami.
Terima
kasih untuk SMPN 104 Jakarta, rekan-rekan teman, guru, kepala sekolah, dan tim
futsal pada saat itu. berkat pengalaman ini menjadi juara adalah suatu hal yang
gua impikan dalam tournament mewakili sekolah, karena sejatinya gua bukanlah
pemain professional. tapi karena "Sepak
Bola adalah sebuah seni terindah. karena ia mampu melahirkan sedih dan bahagia
dalam waktu yang bersamaan" ~Bambang Pamungkas
Credit
point untuk teman-teman yang telah bepatisipasi.
Akhir
klasemen Tournamet Futsal SMAN 6 Jakarta tahun 2011/2012 tingkat SMP
Juara I -
SMPN 104
Juara II
- SMPN 247
Juara III
- SMPN 43
Juara IV
- SMPN 48
Terima
kasih kepada skuad tim futsal SMPN 104 Jakarta
1. M.
Fahli (Kiper) Kelas 96
2. Soni
Edison (Bek) Kelas 92
3.
Maulana Aka Yoga (Bek) Kelas 92
4. Alfi
Zulfikar (Tengah) Kelas 92
5. M.
Tunjung (Depan) Kelas 94
6. Abdul
Rozak (Tengah) Kelas 94
7. Ahmad
Bayhaqi Aka Gua (Depan) Kelas 95
8. Dwi
Prasetyo (Kiper) Kelas 95
9. Yazid
Maulidianzah (Bek) Kelas 95
10. Agus
Jamaludin (Depan) Kelas 71
Tetap semangat dan sukses selalu
SYARIFAH
“ SYARIFAH “ Syarifah merupakan seorang perempuan yang terhormat dari keturunan nabi Muhammad SAW melalui Husein. Husein dan Hasan adalah ...

Contact
ABOUT AUTHOR
Follow us
POPULAR POSTS
-
“ SYARIFAH “ Syarifah merupakan seorang perempuan yang terhormat dari keturunan nabi Muhammad SAW melalui Husein. Husein dan Hasan adalah ...
-
“ Melasti “ Bicara soal hobby traveling, pesona alam itu begitu luas. banyak keanekaragaman hayati yang begitu indah dan kita belum sem...
-
“ WIS-UDAH “ Di era gempuran sosialita dan banyak teman, kerabat, saudara yang seumuran bahkan lebih muda menikah lebih dulu di ...
-
Dari apa yang pernah gua bahas sebelumnya pada artikel "The Theater of Dream" mungkin ada yang penasaran atau bertanya, apakah p...
-
“Dan kemudian akan ada hujan yang menumbuhkan tumbuhan yang lain. Bukan hanya bunga, dan kelak akulah salah satu dari tumbuhan yang baru tum...
Advertisement
Cari Blog Ini
Arsip Blog
- Juni 2024 (1)
- November 2023 (1)
- Desember 2022 (1)
- Juni 2021 (1)
- Januari 2021 (2)
- Desember 2020 (6)
Mengenai Saya

- Abay
- "Tangan tak terlihat adalah metafora yang dipakai Adam Smith untuk menyebut manfaat sosial yang tak terduga-duga" -Invisible Hand